Bio Farma Dapat Pembebasan Pajak Rp 50,95 MIliar

Bio Farma Dapat Pembebasan Pajak Rp 50,95 MIliar
envirotainer covid-19 / bio farma

Jakarta — PT Bio Farma (persero), induk BUMN farmasi, mendapat pembebasan pajak –PPN, PPNBM,dan PPh pasal 22 — senilai Rp 50,95 miliar. Kabar spesial ini diumumkan Menteri Keuangan Sri Mulyani kemarin, Senin 7 Desember 2020. Kok bisa? Ya bisa saja dan tak sepertinya tidak jadi masalah. Soalnya pembebasan pajak itu diberikan demi kemaslahatan rakyat negeri ini: pembelian atau impor vaksin Covid-19 dari China. Lebih tepatnya lagi dari Sinovac Lifescience Corporation Limited China, yang lazim disebut dengan nama pendek Sinovac. Nilai impornya mencapai 20,5 juta dolar AS.

“Pembebasan bea masuk dan atau cukai tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) serta dibebaskan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22,” kata Sri Mulyani, seperti dikabarkan kantor berita Antara. Ia juga menjelaskan kalau pembebasan pajak itu sesuai peraturan yang ia teken sendiri pada 26 November 2020 lalu: Permenkeu No. 188/PMK.04/2020 tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/atau Cukai serta Perpajakan atas Impor Pengadaan Vaksi dalam Rangka Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Rincian pembebasan fiskal senilai Rp 50,95 miliar itu terdiri dari Rp 14,56 miliar untuk pembebasan bea masuk dan Rp 36,93 miliar untuk pembebasan pajak impor. Barang yang diimpor berupa 1,2 juta vial vaksin kemasan dosis tunggal dan 568 vial vaksin untuk untuk sampel pengujian.

Pengumuman Menkeu Sri Mulyani disampaikan setelah pengiriman perdana vaksin Covid-19 itu tiba di Indonesia. Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dari markasnya di Bandung mengabarkan: vaksin Covid-19 buatan Sinovac tiba pada hari Minggu, 6 Desember 2020 di Bandara Soekarno-Hatta, setelah diangkut dengan pesawat Garuda Indonesia dari Beijing. Dari bandara, vaksin Covid-19 itu dibawa ke markas Bio Farma di Bandung pada 7 Desember 2020 dengan menggunakan 7 environtainer atau peti kemas berpendingin.

Vaksin yang datang, terang Honesti, adalah vaksin yang sudah memasuki uji klinis fase ke-tiga, yang kebetulan dilakukan di Indonesia dan juga di Brazil dan sejumlah negara lain. Dan sama seperti Sri Mulyani, ia juga bilang kalau total jumlah vaksin yang datang sebanyak 1.200.568 vial siap pakai. Dari jumlah itu, 568 vial diantaranya akan digunakan untuk pengujian mutu. Soal penggunannya, yang sudah pasti adalah 3 juta vial akan diberikan terlebih dahulu kepada para tenaga medis yang menangani Covid-19.

Sebenarnya, vaksin jadi yang dibeli sebanyak 1,5 juta vial. Namun sisa yang 3 juta vial lagi baru akan dikirimkan pada tahap berikutnya, Januari 2021, bersamaan dengan pengiriman 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bahan baku (bulk). Dan pada Januari pula, akan didatangkan lagi 30 juta dosis vaksin Covid-19 dalam bentuk baku.

Soal berapa nilai impor vaksin Covied-19 tahap berikutnya, dan juga berapa besar nilai pembebasan pajaknya, baik Sri Mulyani maupun Honesti Basyir masih belum buka suara.

Meski begitu, Sri Mulyani dalam penjelasannya merinci bahwa pembebasan pajak dan fiskal yang diberikan kepada Bio Farma bukan cuma untuk vaksin saja. Melainkan mencakup juga bahan baku baku vaksin, peralatan produksi vaksin, dan peralatan vaksinasi. Soal peralatan produksi, Sri Mulyani bilang karena pada pengiriman berikutnya yang akan didatangkan adalah vaksi dalam bentu bahan baku atau bulk. *** ant/bio

 

Tinggalkan Balasan