Menghitung Pajak Progresif Penghasilan Rp 1 Miliar Plus

Menghitung Pajak Progresif Penghasilan Rp 1 Miliar Plus

Pajak progresif bukan cuma untuk mobil dan motor. Penghasilan pribadi pun, sesuai UU No 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, juga terkena pajak progresif. Dan di negeri ini, kebetulan hanya pajak kendaraan dan pajak penghasilan (PPh) saja yang ada pajak progresifnya.

Apa makna pajak progresif atau progressive tax? Tak usah membuka lembaran UU No 36 tahun 2008 untuk tahun makna pajak progresif. UU itu tak mendefinisikannya. Meski begitu semua orang tahu, setidaknya orang dunia pajak tahu, apa maknanya. Maknanya adalah pajak yang dikenakan bertambah tinggi, secara bertahap, seiring semakin tingginya jumlah obyek pajak, atau semakin tingginya penghasilan kena pajak. Ibarat membeli pizza, semakin tinggi citra topping dan varian pizza yang dibeli, harganya pizzanya akan bertambah tinggi pula.

Sang UU sendiri, lewat Pasal 17 ayat 1 a,  lebih suka menggunakan istilah “Lapisan Penghasilan Kena Pajak” (Lapisan PKP) untuk menyebut pajak penghasilan progresif. Dan lapisan pajaknya hanya ada 4 lapis seperti bisa dibaca pada tabel yang berikut.

 Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)5% (lima persen
Di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua ratus lima
puluh juta rupiah)
15% (lima belas persen)
Di atas Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)25% (dua puluh lima persen)
Di atas Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)30% (tiga puluh persen)

Lapisan pajak di atas bukanlah hal yang harus Anda pilih salah satu, yang Anda rasa sesuai dengan penghasilan yang Anda peroleh selama setahun (bukan bulanan). Melainkan, karena disebut progresif, semua lapisan itu bisa saja dikenakan kepada penghasilan, secara bertahap, sesuai lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP). Yang terakhir ii, PKP, bukanlah penghasilan Anda peroleh setiap tahun dari kantor Anda, melainkan penghasilan yang sudah dikurangi oleh Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Penghasilan tidak kena pajak ini merupakan insentif pemerintah bagi para pembayar pajak. Tabel PTKP bisa disimak pada artikel Pajak Penghasilan Tidak Harus Selalu Dibayar.

Kalkulator Penghasilan Rp 1 Miliar Plus

Jadi, bagaimana cara mengaplikasikan tabel tarif berlapis tadi ? Mari kita berhitung. Andaikan setiap bulan, sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP), Anda membawa pulang gaji Rp 100 juta, atau Rp 1,2 miliar per tahun. Karena Anda sudah berkeluarga dan punya 3 orang anak, maka sesuai tabel PTKP Anda mendapat diskon sebesar Rp 72.000.000. Walhasil penghasilan Anda yang dikenai pajak (PKP) menjadi hanya Rp 1.128.000.000. Selanjutnya tinggal kita kenakan aturan main pajak progresif. Caranya : ambil angka tabel lapisan pajak, dan potongkan pada penghasilan Anda, secara bertahap. Nominal PKP yang diambil untuk lapis berikutnya dijumlahkan bersama nominal lapis sebelumnya. Kalau PKP Lebih dari 500 juta, langsung masukkan saja sisanya ke lapis ke-empat. Rinciannya tersaji di tabel berikut.

Lapisan PKPTarif PajakPKP PPh 
Sampai dengan 50 juta5 %50.000.0002.500.000
50 juta sampai dengan 250 juta15 %200.000.00030.000.000
250 juta sampai dengan 500 juta (25%)25 %250.000.00062.500.000
Di atas 500 juta (30%)30 %628.000.000188.400.000
Total PPh per Tahun1.128.000.000 283.400.000
Angsuran Pph per Bulan23.617.000

PPh tahunan yang harus dibayar, yang nilainya Rp 283,4 juta, kalau mau dipersenkan besarnya sekitar 25 persen dari total penghasilan kena pajak. Tapi persentase ini cuma sekedar gambaran saja bawah penghasilan Anda dipotong 25 persen untuk pajak. Yang semestinya adalah Anda cukup bilang kalau penghasilan Anda terkena semua lapisan pajak progresif.

Pentingnya Perencanaan Pajak

Menghitung berapa besar pajak penghasilan (PPh) yang harus dibayar seperti yang dilakukan di atas tentu tidak terlalu sulit. Pakai kalkulator warung pun pasti bisa. Yang agak sulit dilakukan adalah menentukan titik berangkat perhitungan alias menentukan berapa besar penghasilan kenapa pajak (PKP). Kalau take home pay Anda Rp 100 juta per bulan, belum tentu semuanya harus jadi PKP, walau sudah dikurangi PTKP. Bisa jadi masih banyak hal lain yang bisa dijadikan unsur pengurang PKP. Apa saja? Banyak. Termasuk BPJS. Karena itu perlu yang namanya perencanaan pajak. Para konsultan pajak, termasuk CosulTAX, menyediakan jasa perencanaan pajak. Dengan perencanaan pajak, Anda bisa mengidentifikasi hal-hal yang tak perlu dipajaki. Juga berbagai aspek pajak lainnya guna memaksimalkan perolehan penghasilan bulanan atau tahunan Anda, tanpa perlu mengabaikan dan melanggar aturan pajak.


Download : UU No 37 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UU No 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (PDF)

 

Tinggalkan Balasan